Rasa ingin berbagi dan belajar menjadi inspirasi untuk memulai kehidupan dengan cinta dan kasih sayang. Sehingga dengan demikian tercapailah tujuan hidup manusia. Goresan pena merupakan awal untuk mencapai keindahan walaupun coretan tersebut hanyalah kumpulan goresan dari seorang anak manusia yang sangat fakir akan ilmu! Namun demikian, semoga goresan ini bermamfaat bagi penulis sendiri serta menjadi inspirasi untuk semua.

Rabu, 20 Juli 2011

Puasa Ramadhan


A.    PENGERTIAN PUASA RAMADHAN
Menurut bahasa puasa berarti menahan diri, menurut istilah puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu.
Ramadhan jamaknya ramadhanat atau armidha yang berari sangat terik atau yang panas karena terik matahari. Orang Arab dahulu ketika merubah nama-nama bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab disesuaikan menurut masa yang dilalui bulan itu. Maka kebetulan bulan Ramadhan masa itu melalui masa panas karena terik matahari.[1]
Ibnu Manzoor di dalam bukunya lisanul Arab mengatakan bahwa akar kata Ramadhan adalah ramadh yang berarti membakar disebabkan panas matahari yang luar biasa menyinari pasir-pasir gurun. Dikatakan juga bahwa dinamakan bulan Ramadhan sebab manusia menjadi terbakar disebabkan menderita lapar dan haus selama bulan yang sangat panas ini. Pakar bahasa Arab mengatakan bahwa untuk membuat sesuatu lebih terbakar adalah dengan menghimpitnya di antara dua batu karang, lalu memukul-mukulnya. Orang yang berpuasa melalui analogi, berarti memukul-mukul sifat buruknya sendiri diantara dua batu karang, yaitu lapar dan haus. Rasulullah bersabda:”Dinamakan bulan Ramadhan karena ia cenderung membakar dosa-dosa”.[2]
B.     HUKUM PUASA RAMADHAN
Puasa ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim yang baligh, berakal,  dalam keadaan sehat, dan tidak melakukan perjalanan jauh
Yang menunjukkan puasa ramadhan itu wajib adalah firman Allah SWT :
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9
tbqà)­Gs?
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (al-Baqarah : 183)
Puasa ramadhan tidak gugur bagi orang yang telah dibebani syari’at kecuali apabila terdapat uzur atau halangan.  Diantara uzur sehingga mendapat keringanan dari agama untuk tidak berpuasa adalah orang yang sedang bepergian jauh, sedang sakit, orang yang sudah berumur lanjut (tua renta), dan khusus bagi wanita apabila dalam keadaan haidh, nifas, hamil atau menyusui.
a)      Hukum puasa Ramadhan bagi musafir
Allah berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 184 :

“Barangsiapa diantara kalian ada yang yang sakit atau dalam perjalanan, lalu berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.

Ayat ini dikhususkan bagi orang yang berada dalam perjalanan dan orang yang sakit secara keseluruhan. Oleh karena itu, jika seseorang melakukan musafir (perjalanan jauh) mencapai delapan puluh empat mil, maka diberikan kepadanya keringanan untuk berbuka. Dan menggantinya pada hari lain setelah bulan Ramadhan. Tetapi jika ia tetap berpuasa maka ia akan mendapatkan tambahan pahala.
b)      Hukum puasa Ramadhan bagi orang yang usia lanjut
Orang yang sudah lanjut usia dan tidak mampu lagi mengerjakan puasa, maka ia boleh berbuka. Akan tetapi harus menggantikannya dengan memberi makan kepada fakir miskin sebanyak satu mud dan ia tidak perlu mengqadha puasanya.
c)      Hukum puasa Ramadhan bagi wanita hamil dan menyusui
Sebagian ulama mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui dibolehkan berbuka puasa. Akan tetapi menggantikannya pada hari lain atau memberi makan kepada orang miskin. Ketika mengqadha puasanya, jika ia seorang yang kaya dan hidup dalam kemudahan, maka hendaklah disertai dengan sedekah pada setiap hari yang ditinggalkannya itu satu mud gandum karena yang demikian  lebih sempura dan lebih besar pahalanya. Akan tetapi jika ia tidak mampu memberi makan fakir miskin, maka kewajiban tersebut gugur, sehingga cukup baginya dengan mengqadha puasa yang ditinggalkannya, tanpa harus membayar fidyah (denda).
d)     Batalnya puasa Ramadhan dan wajib atasnya kafarat:
1.      Orang makan dan minum dengan sengaja.
2.      Muntah dengan sengaja.
3.      Memandang orang laki-laki/perempuan dengan penuh perasaan nafsu birahi atau mengingat-ingat akan nikmatnya berhubungan badan.
4.      Haid dan nifas.
5.      Jika suami menyutubuhi istrinya dengan persangkaan bahwa waktu maghrib telah masuk atau mengira waktu fajar belum tiba, maka keduanya dalam hal ini tidak berkewajiban untuk membayar kafarat akan tetapi  wajib mengqadha puasanya.
6.      Jika seseorang berniat untuk berbuka, sedang ia dalam keadaan puasa. Maka puasa yang sedang dijalankannya itu menjadi batal karena niat merupakan salah satu syarat sah puasa.[3]


[1] Muhammad Hasbi ash Shiddieqy, Pedoman Puasa, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2000), hal. 4
[2] Yasin T al-Jibouri dan Mirza Javad, Rahasia Puasa Ramadhan, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hal. 21-22
[3] Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqh Wanita, (Jakarta: Al Kautsar, 1998), hal. 256-260
Share:

Sabtu, 25 Juni 2011

Budaya Baru Geser Islam di Aceh

By. Majida
Study in IAIN AR-RANIRY, majoring in PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.

Budaya Baru Geser Islam di Aceh 

Memang terkesan berlebihan, tapi itulah yang sekarang sedang di alami oleh Islam di Aceh. Banyak hal baru yang masuk ke Aceh. Utamanya adalah semua yang berkenaan dengan budaya. Budaya-budaya kiriman luar itu makin lama makin diminati, baik oleh anak-anak, remaja, hingga dewasa. Sayangnya budaya-budaya baru itu kebanyakan merupakan hal yang bersifat negatif, dan lebih parahnya lagi bahwa kekuatannya ini bisa menggeser kedudukan Islam di Aceh yang sudah lama tumbuh di bumi tercinta ini.
            Sebagai contoh budaya-budaya baru yang negatif itu adalah budaya hubungan pra nikah, hiburan-hiburan musik di warkop atau di kafe-kafe, gaya pakaian ala artis, ikutnya perwakilan Aceh ke ajang-ajang yang kurang bermanfaat, penyalahgunaan tehnologi, salon dan spa yang jauh dari tatanan Islam, pertumbuhan anak Punk sebagai komunitas baru di Aceh. Ini semua merupakan produk-produk luar yang mentah-mentah diterima oleh kita ureueng Aceh sekarang ini.
Hubungan pra nikah atau yang lebih kita kenal dengan istilah pacaran sudah menjadi hal yang lumrah di dalam masyarakat Aceh. Mulai dari ABG sampai orang dewasa tidak asing lagi dengan praktek ini. Hal ini tidak sepatutnya diremehkan, karena praktek ini merupakan petanda kerusakan moral dan ditrobosnya batasan-batasan yang telah Allah tentukan untuk menjaga kesucian hamba-hamba-Nya. Hal yang dipandang remeh inilah yang sebenarnya merupakan pintu utama terjadinya petaka-petaka besar, seperti zina besar yang dapat menimbulkan berbagai penyakit menular dan berbahaya, lahirnya anak-anak tak berayah, pembunuhan, dan lain hal yang bersifat negatif.
Beberapa  warkoppun sebahagiannya telah menyajikan “sajian baru” selain hanya sekedar makanan dan minuman,yaitu musik. Benar memang ini hanya sekedar hiburan belaka, tapi bagaimana dengan sajian musik yang bergaya club-club malam? Apakah itu pantas dan sesuai berada di negri Serambi Mekkah ini? Dan yang dikhawatirkan adalah ini menjadi pondasi-pondasi awal dibukanya diskotek secara legal di Aceh.
Bersamaan dengan itu, gaya pakaian ( laki-laki atau perempuan) yang terlampau berlebihanpun sangat digandrungi oleh hampir seluruh penduduk Aceh yang mayoritasnya beragama Islam. Batasan-batasan agama dilangkahi, tata kesopananpun tak diindahkan. Fakta yang lebih menyedihkan lagi bahwa sekarang para wanita sudah mulai berani menanggalkan kerudung dari kepalanya dan dengan santainya berjalan  di depan umum tanpa merasa risih dan canggung. Seolah-olah dari tindakan mereka itu terlontar kalimat ” Inilah kami. Jangan kekang kebebasan kami dengan memaksa  kami agar memakai kerudung “. Begitu pula halnya dengan tabiat baru para kaum Adam kita di Aceh, mereka juga tak mau kalah dalam ajang pamer aurat. Terlihat dari kenyamanan mereka menggunakan celana di atas batasan aurat mereka, yang juga digunakan di depan umum. Intinya dalam bahasa Aceh bisa kita sebutkan  “ abeh lam tipi “, maksudnya adalah semua yang ditampilkan di televisi ditiru tanpa terlebih dahulu dicerna. Sangat di sayangkan ketika kita mengingat- ingat kembali hikmah dari perintah Allah berkenaan dengan diwajibkannya menutup aurat bagi umat Islam yang sebenarnya kebaikannya adalah kembali kepada kita. Tapi kebanyakan kita tutup mata dan tutup telinga atas perintah ini.
Terbukanya Aceh kepada ajang-ajang yang kurang pantas disandarkan dengan tabiat orang Aceh yang mayoritasnya Islam juga menjadi budaya baru yang dianggap layak dikalangan kita sekarang. Misalnya saja ajang  pemilihan Putri Indonesia  ( dengan tiga syarat utamanya yaitu brain, beauty, behavior ), Aceh masuk sebagai perwakilan salah satu propinsi di Indonesia. Ada sisi positif dan ada pula  sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah dengan adanya perwakilan dari Aceh berarti pula bahwa Aceh punya wanita yang memenuhi syarat brain, beauty, dan behavior tersebut. Tetapi bersamaan dengan itu kita juga merasakan dampak negatifnya bagi agama kita, Islam. Memang ketika kita mendengar tujuan diselenggarakannya acara ini adalah sebagai wahana memperkenalkan budaya dari masing-masing daerah tidakalah salah, tapi apakah menurut Islam dibenarkan dengan caranya yang seperti ini? Dimana dalam kontes ini wanita dinilai kecantikannya, bermanis-manis di depan para dewan juri, membuka aurat, yang kesemaunya ini sangat jauh dari tutunan Islam kepada seorang muslimah agar menjadi wanita shaliha. Baru – baru ini, perwakilan yang membawa nama Aceh keluar sebagai pemenangnya yang dibarengi dengan ucapan selamat dari gubernur Aceh ( yang menurut saya adalah suatu bentuk pemberian restu ) dan mengikuti ajang lanjutan ketingkat dunia yaitu ajang Miss Universe. Di bulan Ramadhan acara ini diadakan dan perwakilan Aceh   dengan membawa nama Indonesia adalah salah seorang dari kontestannya. Dan kita semua tau bagaimana acara itu. Apakah dengan cara menanggalkan pakaian kita memperkenalkan budaya kita ke mata dunia? Apakah pantas kita sebagai penduduk daerah yang mulai berusaha membangun daerah bersyariat diam melihat seorang atau bahkan lebih membawa nama Aceh ke dalam ajang-ajang seperti itu? Itu semua tak perlu dijawab tapi harus direnungi.
 Masalah lain yang tidak boleh kita sepelekan adalah tumbuhnya salon-salon kecantikan dan spa  yang non islami. Baik wanita maupun waria- waria yang bekerja disana di dalamnya. Hal ini sudah saatnya kita tolak keberkembanganya di Aceh ini. Sepertinya sudah menjadi tuntutan zaman tempat – tempat ini hadir di Aceh, atau ini malah tuntutan orang Aceh sendiri yang sudah merasa perlu akan hal-hal ini seperti yang terjadi di kota- kota metropolitan. Di dalam Islam tempat- tempat seperti ini sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan karena mengingat manfaat dan mudharatnya, walaupun Rasulullah saw. memerintahkan kita merawat diri dan Islam juga mencintai keindahan tapi tidak mesti dengan cara ini. Melainkan dengan perwatan-perwatan yang sederhana saja sudah cukup.
Penyalahgunaan tehnologi juga sudah menjadi penyakit baru setelah berkembangnya tehnologi beberapa tahun belakangan ini. Padahal seandainya kemajuan tehnologi ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan yang bersifat positif saja, pastilah hanya dampak-dampak positif saja yang kita rasakan. Namun kenyataannya tidak demikian, penggunaan secara positif dan negatif  keduanya berjalan beriringan tergantung si penggunanya.
 Budaya lainnya adalah lahirnya anak-anak muda yang bergaya sangat bertolak belakang dengan tata kesopanan dan tuntunan Rasulullah - yang menamakan kelompoknya dengan sebutan Punk - di area kota Banda Aceh ini semakin membuat hati miris. Dengan  gaya ugal-ugalan yang mereka pertontonkan di depan umum yang bisa kita lihat setiap harinya di sudut-sudut kota Banda Aceh, semakin memperkuat kedudukan sebuah kalimat “ Budaya baru geser Islam di Aceh “ dan dikhawatirkan eksistensi Islam di Aceh akan sirna dan hanya meninggalkan nama Islam saja. Atau bahkan mungkin Islam sudah pergi dari bumi Aceh ini tanpa kita sadari?
Kenapa semua ini bisa terjadi? Jawabannya karena kita mengaku diri sebagai seorang Islam dan benar-benar beriman pada Allah, tetapi sebagian besar dari kita tidak menjalankan apa yang diperintahkan-Nya bahkan melakukan apa yang saja larangan-larangan-Nya. George Sarton ( dosen di Universitas Harvard ) mengatakan: “ sesungguhnya Islam merupakan tatanan agama yang paling tepat sekaligus paling indah. Kamipun sependapat bahwa ia memang merupakan paling tepat dan paling indah dibanding dengan yang lainnya. Tapi sangat disayangkan bahwa kaum muslimin sendiri telalu jauh dari hakekat yang dibawa Islam. Kalau kita melihat Islam dari perbuatan kaum muslimin, sudah tentu kita tidak  akan melihat ajaran agama itu dengan jelas dan gamblang “
Sungguh mengena apa yang dikatakan oleh George Sarton dengan apa yang kita rasakan terhadap Islam di Aceh sekarang ini. Kita malu dengan budaya mulia yang dibawa Islam melalui syariat-syariatnya dengan cara menanggalkannya lalu menggantinya dengan budaya-budaya jelek yang merusak tatanan keislaman kita.
Sebenarnya siapa yang mesti kita salahkan atas semua ini? Masing-masing kita sudah tahu jawabanaya. Siapa dokter handal yang bisa menyembuhkan penyakit ini? Dokternya adalah kita sendiri yang mengaku sebagai orang yang Islam yang bertuhankan Allah bertauladankan Nabi Muhammad, dan yang mengaku diri sebagai penduduk daerah bersyariat Islam. Obatnya adalah terapkan hukum Allah, dan tak lupa pula doa dan harapan yang selalu kita panjatkan ke hadirat Allah agar menetapkan Islam dan eksistensinya di bumi Aceh hingga hari yang dijanjikan kelak.
            Wallahu a’lam bissawab.

Share:

Senin, 16 Mei 2011

Manusia sebagai Makhluk Belajar dan Mengajar


Manusia sebagai Makhluk Belajar dan Mengajar

Kajian tentang manusia dalam hubungan dengan kegiatan pendidikan, memiliki signifikasi sebagai berikut:
1.      Bahwa manusia selain sebagai subjek juga sebagai objek pendidikan
2.      Bahwa munculnya berbagai teori dan konsep tentang belajar yang beraneka macam, adalah sebagai hasil dari kajian terhadap manusia yang beragam pula
3.      Bahwa salah satu kegiatan utama pendidikan adalah pelaksanaan strategi pembelajaran yang melibatkan pendidik dan peserta didik yang keduanya adalah manusia
4.      Bahwa inti dari pembelajaran adalah memotivasi, mendorong, menggerakkan, membimbing dan mengarahkan agar anak didik mau belajar, dan dapat menggunakan potensi dirinya
5.      Bahwa salah satu definisi pendidikan yang umum nya berlaku dan di terima oleh ahli pendidikan, adalh mempengaruhi peserta didik agar mau merubah pola pikir, prilaku sesuai dengan yang telah di tetapkan.

Berbagai Istilah tentang Manusia
Pemakaian kata manusia memiliki makna ganda, seperti terbukti dalam kalimat-kalimat berikut ini: (a) Manusia tidak lain kecuali hewan, yang mengandung makna manusia adalah hewan. (b) Manusia merupakan hasil sejarah, berarti tidak mengacu pada manusia, melainkan kepada kepribadiannya. (c) Manusia adalah makhluk rohani, yang bermakna, manusia merupakan mahluk yang lebih dari raga, nyawa, atau jiwa. (d) bahwa manusia yang di dalam nya terdapat raga, namun berbeda dengan raga lainnya. (e) menggambarkan manusia sejenis kebajikan atau kedirian.
H.M.Quraish Shihab mengatakan bahwa keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya disebabkan oleh:
1. pembahasan tentang manusia termaksud yang terlambat dilakukan, karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan tentang materi alam.
2. ciri khas manusia yang cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks.
3. multikompleks nya masalah manusia.
Terlepas dari pro kontra tentang istilah mana yang akan digunakan oleh manusia, dalam menyusun berbagai teori dan konsep tentang berbagai kehidupan, yang pasti bahwa manusia adalah sebagai makhluk yang memiliki potensi yang luar biasa.
Agamawan berkomentar bahwa pengetahuan manusia tentang manusia demikian itu disebabkan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terhadap roh ilahi, sedang manusia tidak di beri pengetahua tentang roh, kecuali sedikit. (QS. Al-Isra’,17:85)
Menurut H.M.Quraish Shihab, ada tiga istilah yang di gunakan al-quran untuk menunjuk kepad manusia:
1.      Manusia sebagai Al-Insan
Di dalam al-quran kata insan disebut sebanyak 65 kali dalam 63 ayat. Kata insan berasal dari kata “uns” yang berarti jinak, harmoni dan tumpah, dan ada pula yang berpendapat bahwa kata “uns” berasal dari kata “nasiya” yang berarti lupa, atau berasal dari kata nasa yanusu yang berarti guncang.
Selanjutnya, di dalam al-quran terdapat ayat-ayat yang berbicara tentang manusia sebagai insan yang dikaitkan dengan berbagai kegiatan manusia. Kata insan terkadang digunakan untuk menjelaskan tentang kegiatan manusia dalam belajar (QS. 96:1-5 dan 55:1-3), sebagai makhluk yang memiliki musuh dan suka bermusuhan (QS. 12:5 dan 17:53), mahluk yang dapat mengola dan merencanakan waktu (QS. 103:1-3), makhluk yang dapat memikul amanat (QS. 33:72), sebagai makhluk yang dapat menanggung semua perbuatan yang di lakukanya (QS. 53:39, dan 79:35), yang memiliki komitmen moral (QS. 29:8, 31:14, dan 46:15), makhluk yang dapat bekerja dalam bidang peternakan (QS. 28:23 dan 25:49), yang dapat melakukan pelayaran (QS. 2:164), makhluk yang dapat mendaya gunakan logam besi (QS. 57:25), yang dapat melakukan perubahan sosial (QS. 3:140 dan 8:26).
Manusia insan adalah manusia yang dapat menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yang tidak di ketahui nya, dalam hal ini secar simbolis tuhan merupakan sebagai guru yang maha luas ilmu nya, atau Al-Alim.
Manusia insan sebagai kodratik, sebagi ciptaan tuhan yang maha sempurna bentuknya di bandingkan dengan makhluk lainnya.
Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar dalam konstek insan merupakan kegiatan kebudayaan yang paling vital.
2.      Manusia sebagai Al- Basyar
Al- Basyar adalah manusia dalam kehidupan nya sehari-hari, yang berkaitan dengan kegiatan lahiriah, yang di pengaruhi oleh dorongan kodrat alamiahnya, seperti makan, minum, bersetubuh, dan mati mengakhiri kegiatanya.
Dari sisi lain banyak ayat al-quran yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.
Insan basyar pada hakikat nya adalah manusia sebagai kesatuan yang membentuk kebudayaan. Kata insan dan basyar dipakai untuk sebutan manusia.
3.      Manusia sebagai Bani Adam atau Zuriyat Adam
Kata Adam atau Zuriyat Adam juga mengandung arti, bahwa manusia sebagai mahluk sosial. Seperti dalam quran surat (QS. Al-Isra’ 17:70).
Dalam kegiatan belajar mengajar, salah satu tugas guru adah menggali potensi insan, basyar, dan al-nas yang dimiliki semua tersebut. Wewenang manusia di bidang pengetahuan, informasi, pandangan, keinginan, dan kecenderungan itu sangat luas dan tinggi.
Dengan melihat penjelasan yang di berikan al-quran dan para ulama, terlihat dengan jelas bahwa manusia memiliki kemampuan intelektual, spiritual, sosial, dan jasmani dengan berbagai cabangnya.
Informasi tentang manusia dengan berbagai potensi yang dimilikinya itu amat menolong manusia dalam rangka merancang kegiatan belajar  melaluyi strategi pembelajaran yang bersifat konsepsional dan tepat. Disinilah letak relevansi kajian tentang manusia dengan perumusan konsep pembelajaran.

Berbagai Potensi Manusia
Dengan mengkaji konsep al-insan, al-nas, basyar, bani adam, atau zuriyat adam, paling kurang dapat diketahui adanya ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang dimiliki manusia.

Struktur Jiwa Manusia Dan Hubungannya Dengan Kegiatan Belajar Mengajar
A.     Pengertian jiwa dalam ilmu jiwa
Jiwa atau yang dalam bahasa inggris nya psyche berbeda dengan nyawa. Jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat absrak, yang menjadi penggerak dan mengatur segala perbuatan pribadi, mulai hewat tinggkat tinggi hingga manusia.
Jadi dapat disimpulkan bahwa: (1) bahwa kegiatan belajar mengajar sebagaimana di jumpai pada teori dan konsep pembelajaran pada dasarnya bertolak dari informasi yang terdapat dalam kajian kejiwaan. (2) para ahli strategi pembelajaran berutang budi kepada para ahli ilmu jiwa. (3) ajaran islam dengan sumber utama nya adalah al-quran dan as-sunnah telah memberikan informasi yang lengkap dan mendasar tentang struktur kejiwaan manusia yang selanjutnya apat di gunakan untuk merumuskan strategi pembelajran.

Struktur Fitrah Manusia Dan Hubungannya Dengan Kegiatan Belajar Mengajar
A.     Pengertian Fitrah Manusia
Dari segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan. Dan dari makna ini makna-makna lain seperti “penciptaan”,dan “kejadian”. Dengan demikian secara sederhana fitrah manusia berarti kejadianya sejak semula atau bawaan nya sejak lahir.
Di dalam al-quran kata fitrah dalm berbagai bentuknya terulang sebanyak 28 kali, 14 kali di antarnya kata fitrah di gunakan di dalam konteks penciptaan atau kejadian langit dan bumi. Sedangkan selebihnya kata fitrah di gunakan dalam konteks penciptaan manusia, baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah allah, maupun tentang fitrah manusia.


B.     Struktur Fitrah Manusia
Dapat diketahui bahwa struktur fitrah manusia paling kurang mencakup 5 bentuk, sebagai berikut:
1.      Fitrah beragama yang bertumpu pada keimanan sebagai intinya.
2.      Dalam bentuk bakak (mahabib) dan kecendrungan (qabiliyah) yang mengacu kepada keimanan kepada allah.
3.      Fitrah berupa naluri dan kewahyuan, yang kedua nya bagaikan dua sisi dari satu mata uang logam.
4.      Fitrah merupakan kemampuan dasar untuk beragam secara umum.
5.      Fitrah memiliki komponen yang meliputi, bakat dan kecerdasan, insting (naluri).

C.     Hubungan Struktur Fitrah Manusia dan Kegiatan Belajar Mengajar
Pandangan tentang fitrah yang akan memengaruhi kegiatan belajar mengajar yang semata-mata buka di tentukan oleh input semata, melainkan juga melalui proses thrutput yang di lakukan oleh guru dan kehendak allah. Dengan demikian maka kegiatan belajar mengajar harus menyiapkan anak didik untuk siap mengikuti kegiatan belajar serta berbagai sarana prasarana, dan sebagainya.
Dengan berbasis pada pemahaman tentang fitrah tersebut, maka secara konseptual, islam menganut paham individualistik dalam bidang pendidikan. 
************
Untuk lebih jelas baca; Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Pembelajaran, Jakarta 2009.
Share:

Blogger Themes

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Blogger Tricks

BTemplates.com