Minggu, 25 Desember 2011

Syi'ah, pengertian serta latar belakangnya.


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Syiah
Menurut bahasa Syi’ah berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam spiritual dan keagamaanya  selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW, atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait.[1] Syi’ah juga dapat diartikan, kelompok masyarakat yang menjadi pendukung Ali ibn Abi Thalib[2], yang mana beliau dianggap sebagai imam dan khalifah oleh mereka yang ditetapkan melalui Nash dan wasiat dari Rasulullah.   
Thabathbai mengatakan bahwa istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan pada para pengikut Ali (Syi’ah Ali).[3] Menurut bahasa Arab Syi’ah Ali bermakna “pengikut Ali”, sedangkan menurut istilah Syi’ah Ali adalah kaum yang beri’tiqat bahwa saidina Ali Kw adalah orang yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi.[4]

2.      Latar Belakang Munculnya Syi’ah
Mengenai kemunculan Syi’ah dalam sejarah terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah Syi’ah mulai muncul pada akhir masa pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.[5] Adapun menurut Watt, Syi’ah baru benar-benar muncul ketika pecahnya perperangan antara Ali dan Mu’awiyah yang dikenal dengan perang Siffin.

Kalangan Syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pergantian khilafah Nabi SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Ustman bin Affan, mereka beranggapan bahwa hanya Ali bin Abi Thalib yang pantas menggantikan Rasulullah SAW. Hal tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat Rasulullah semasa hidupnya antara lain;
a.      Ketika pada awal islam mendakwahkan ajarannya secara terang-terangan kesempatan itu disebut da’wat dzul asyirah (dakwah kepada karib kerabat). Meminjam kata-kata Rev Sale, Nabi SAW bersabda: “Tuhan telah memerintahkanku untuk mengajak kalian kepadanya, siapa diantara kalian yang ingin membantuku berdakwah dan menjadi penerusku?[6] sebagian besar mereka yang datang menolak dan membenci ajakan itu, akan tetapi saat itu Ali bangkit dan mengatakan bersedia menolong Rasul SAW, sehingga Rasulullah memeluk Ali.
b.      Peristiwa ketika Ali memperoleh kemenangan pada perang Khaybar, Rasulullah berkata: “Engkau adalah bagianku dan aku adalah bagianku, kau akan mewariskanku… engkau bagiku bagaikan Harun bagi Musa as. Engkau akan paling dekat denganku di hari kiamat dan paling dekat denganku di telaga kausar. Permusuhan terhadapmu adalah permusuhan terhadapku, perang melawanmu adalah perang melawanku. Keimanan yang kau miliki sebanyak keimananku. Kau adalah gerbang bagiku”.[7] Tidak ada kata-kata yang lebih jelas, tegas, kuat, serta fasih dari pada kata tersebut dan Rasulullah tidak pernah mengatakan kata-kata itu untuk selain Ali r.a.
c.       Peristiwa perang Tabuk menjadi bukti ketiganya, Rasulullah SAW mempercayai Ali dan mengangkatnya sebagai pengawal utama untuk mempertahankan benteng terakhir pertahanan pasukan islam dan menyukseskan dakwahnya. Nabi SAW bersabda: “Ya Ali tidak ada yang mampu menjaga negeri muslim selain dirimu dan aku”.[8]
d.      Dan peristiwa Ghadir Khumm menjadi salah satu bukti yang mengesahkan Ali sebagai penerus Rasulullah dan penggantinya dihadapan masa yang penuh sesak yang menyertai beliau.[9]
Demikianlah sedikit banyaknya tentang isyarat-isyarat Rasulullah yang menyatakan bahwa Ali.ra. adalah penerusnya, dan masih banyak isyarat lainnya yang menyatakan Ali.ra sebagai penerus Nabi SAW.
Akan tetapi ketika Rasulullah wafat, Ali tidak menjadi khalifah atau penerus Nabi SAW, karena berlawanan dengan harapan mereka maka muncullah sikap di kalangan kaum muslimin yang menentang kekhalifahan, mereka berpendapat bahwa pengganti Nabi dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali. Inilah yang kemudian disebut sebagai Syia’ah.[10]


[1]  Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung,2003. Hal 89
[2]  Asywadie Syukur, Al-Milal Wa Al-Nihal, PT Bina Ilmu, Surabaya,2005. Hal 124
[3]  Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung,2003. Hal 89
[4]  K.H. Siradjuddin Abbas, I’itiqad Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Jakarta. 2001. Hal 92
[5]  Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung,2003. Hal 90. Lihat Muhammad Abu Zahra, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, terj Abd. Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, Logos, Jakarta, 1996. Hal 34
[6]  Syed M. Askari Jafari, Gold Profile of Imam Ali, Pustaka IIMan, Depok,2007. Hal 99
[7]  Ibid. Hal 100
[8]  Ibid. Hal 102. Lihat Mustadrak Hakim; Isti’ab, Allama ibn Abdul Barr; Izzalatul Khifa, Shah Waliyullah; kanzul Ammal, Allama Ali Muttaqin; Tazkiratul Khawasul A’aimma, Sibt ibn Jawzi.
[9]  Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung,2003. Hal 90
[10] Ibid. Hal 91 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

saya masih belajar mohon maaf bila bnyak salah dan kekurangan.