Rasa ingin berbagi dan belajar menjadi inspirasi untuk memulai kehidupan dengan cinta dan kasih sayang. Sehingga dengan demikian tercapailah tujuan hidup manusia. Goresan pena merupakan awal untuk mencapai keindahan walaupun coretan tersebut hanyalah kumpulan goresan dari seorang anak manusia yang sangat fakir akan ilmu! Namun demikian, semoga goresan ini bermamfaat bagi penulis sendiri serta menjadi inspirasi untuk semua.

Selasa, 11 Januari 2011

Wahabiah, Sejarah, Aliran, dan Pokok Pikiran nya.

KATA PENGANTAR
               Segala puji dan syukur bagi Allah yang maha kuasa, karena dengan izin nyalah penulis telah dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Wahabiah serta Aliraan-aliranya” merupakan salah satu tugas dari dosen pembimbing. Salawat dan salam kita sanjungkan kepangkuan Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa umat dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan.
               Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak terutama kepada ayahanda dan ibunda penulis serta dosen pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis hingga selesainya makalah ini, juga teman-teman, kerabat maupun keluarga yang telah memberikan dukungan dan sokongan dalam menyelesaikan makalah ini sehingga berada dalam genggaman pembaca sekalian.
               Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan dan kejanggalan, hal ini bukanlah penulis sengaja, tetapi keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis dalam hal ini. Oleh karena itu penulis tidak menutup diri dari semua pihak untuk memberikan kritikan dan saran yang sehat demi kesempurnaan makalah ini di masa mendatang.
               Akhirnya penulis ucapkan selamat membaca, semoga makalah  ini bermamfaat bagi penulis dan pembaca. Kepada Allah jualah penulis serahkan segalanya, semoga kita selalu mendapatkan Ridha dan Magfirah dari-Nya Amin……….

                                                                                                Banda Aceh, 19 Desember 2010
                                                                                                            Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Latar belakang penyusunan makalah ini agar pemakalah sendiri tahu apa yang dimaksud dengan Wahabiah serta mengetahui sejarah dan aliran aliran Wahabiah itu sendiri. Selain itu tujuan penulisan makalah ini juga untuk melengkapi tugas dari Dosen pembimbing.

1.2  Metode Penyusunan
Metode penyusunan makalah ini yaitu dengan cara merangkum dari berbagai buku yang berkaitan dengan ajaran Wahabiah serta aliran aliran Wahabiah yang kemudian kami kemas dan kami susun sehingga menjadi sebuah makalah yang amat sangat sederhana dan terdapat banyak kekurangan.
 

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Wahabiah
            Wahabisme adalah paham Wahabi atau sering juga dilafalkan dengan Wahabi. Istilah yang terakhir ini berasal dari kata Wahabiyah atau Wahabiyun atau juga Wahhabiyyun (dengan dua huruf y) yang masing-masing bermakna sama.
Istilah tersebut adalah bentuk penisbatan atau penyandaran yang dikenal dalam bahasa Arab. Penisbatan yang dimaksud dapat menunjukkan arti keberasalan sesuatu secara geneologis atau geografis dan dalam keadaan-keadaan tertentu dapat juga menunjukkan arti kepengikutan secara personal atau komunal.
Asal istilah Wahabiyah atau Wahabiyun adalah kata wahhab. Kata ini adalah salah satu bentuk perubahan kata kerja bahasa Arab, yakni wahaba-yahabu yang berarti memberikan atau menghibahkan. Bentuk perubahan kata yang menunjukkan arti subjek dari kata-kerja ini adalah wahib yang berarti pemberi atau yang memberi.
Dalam morfologi bahasa Arab, bentuk subjek wahib ini dapat diubah lagi ke dalam bentuk mubalaghoh. Adapun bentuk yang dimaksud, adalah satu bentuk perubahan subjek yang mengandung sekaligus juga menyatakan sifat melebih-lebihkan dan juga sifat kontinyu pada diri subjek tersebut, yakni wahhab yang berarti pemberi yang sering atau banyak memberi.
Namun dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, kata Wahhabi yang dikenal sekarang ini diartikan sebagai satu sebutan bagi paham dan gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703—1787) yang sangat keras menentang keyakinan atau praktek yang bersifat khurafat dan syirik, seperti ziarah ke tempat-tempat keramat, meminta perantaraan orang-orang yang dianggap wali untuk berhubungan dengan Allah, meminta syafaat kepada ulama, dan seterusnya. Para pengikutnya disebut dengan Muwahhidun yang berarti para penganut tauhid.[1]
Demikian pula di dalam Ensiklopedi Islam, kata Wahhabi diartikan sebagai istilah atau julukan yang sebenarnya diberikan oleh para musuh gerakan pemurnian agama yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab. Para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri lebih menyebut diri mereka dengan sebutan Al-muslimun atau Al-muwahhidun (pendukung ajaran yang memurnikan ketauhidan Allah Subhaanahu wa Ta’ala).[2]
Musuh-musuh tauhid memberi gelar Wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama Wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa'ul Husnaa).
Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:
"yang artinya : Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata Hasan Shahih)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo'a (memohon) kepada Allah semata, sebab dialah yang mahakuasa dan yang maha menciptakan sedangkan selain nya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat memohon selain dari pada Allah.
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam . Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:

"Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." [Shaad : 5]
Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhannahu wa Ta'ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima, padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang Wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasalam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah telah menulis kitab "Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu Alaihi Wasalam ". Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah", di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, Akidah Tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi Akidah Tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata Wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo'a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata Wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.[3]

2.2 Sejarah Paham Wahabi
Wahabiyah muncul di gurun Arab sebagai reaksi terhadap sikap pengkultusan dalam mencari keberkatan dari orang-orang tertentu  serta mendekatkan diri kepada Allah melalui ziarah ke kuburan mereka, disamping terhadap bid’ah yang telah mendominasi berbagai tempat ke agamaan dan aktifitas duniawi. Wahabiah datang guna melawan semua penyimpangan ini dan menghidupkan kembali mazhab Ibnu Taimiyah, yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (w. 1787 M.).[4]
Sebenarnya menamakan gerakan ini “wahabiah” adalah salah, karena pembangunnya bernama Muhammad, bukan Abdul Wahab. Tersebut dalam kamus Munjib Pagina 568 bagian Adab, yang artinya: “Wahabiah adalah suatu bahagian dari Firqah Islamiah, dibangun oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1702-1787 M.). lawanya menamainya Wahabiah tapi pengikutnya menamakan dirinya “Al Muwah-hidun” dan thariqat mereka dinamainya Al Muhammadiyah”. Dalam firqah mereka berpegang kepada madzhab Hanbali, disesuaikan dengan tafsir Ibnu Taimiyah”. Demikian tersebut dalam Munjib.[5]
Keterangan kamus Munjib ini tidak semua benar. Ulama-ulama Wahabi tidak marah kalau di panggil dengan kalimat “Wahabi”, dan bahkan ada sebuah buku yang di karang oleh mereka, berjudul “Al Hijatussaniyah Wat Tahfatul Wahabiah an Nijdiyah”, di cetak oleh percetakan “Ummulqura” di Makkah tahun 1344 H.
Saudara dari Muhammad bin Abdul Wahab ini bernama Sulaiman bin Abdul Wahab Tuhan untuk menolak paham Wahabi. Dari judul buku ini saja jelaslah bahwa pada masa hidup Muhammad bin Abdul Wahab nama “wahabiah” sudah ada juga.
Seorang ulama besar Mufti Syafi’I di Makkah, Syeikh Sayid Ahmad Zaini Dahlan (wafat 1304 H) menulis sebuah buku untuk menolak paham Wahabi dengan judul “Ad Dararus Saniyah Firradi Alal Wahabiyah” (Permata Yang Bertahta Untuk Menolak Paham Wahabi). Teranglah bahwa nama “Wahabi” itu sudah lama adanya.
Dari keterangan “Munjid” tadi ternyata bahwa paham Wahabi itu adalah penerus paham Ibnu Taimiyah dan bahkan lebih fanatik dan lebih radikal dari Ibnu Taimiyah.[6]
Guru-guru Muhammad bin Abdul Wahab semua termaksud ayahnya dan kakaknya adalah ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Menurut ustad Hasan Khazbyk dalam suatu karangannya mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pada ketika muda nya banyak membaca buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan lain-lain pemuka yang tersesat.[7]

2.3 Biografi Muhammad bin Abdul Wahab
Nama Lengkapnya Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Syeikh Al-Islam Al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Al-Masyarif At-Tamimi Al-Hambali An-Najdi.
Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung `Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab, Saudi sekarang.
Beliau meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1793 M) dalam usia 92 tahun, setelah mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam memangku jabatan sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi.
Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab berkembang dan dibesarkan dalam kalangan keluarga terpelajar. Ayahnya adalah ketua jabatan agama setempat. Sedangkan kakeknya adalah seorang qadhi (mufti besar), tempat di mana masyarakat Najd menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan dengan agama. Oleh karena itu, kita tidaklah di heran apabila kelak beliau juga menjadi seorang ulama besar seperti keluarganya.
Sebagaimana lazimnya keluarga ulama, maka Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab sejak masih kanak-kanak telah di didik dan ditempa jiwanya dengan Pendidikan Agama, yang diajar sendiri oleh ayahnya, Syeikh Abdul Wahhab.
Sejak kecil lagi Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab sudah kelihatan tanda-tanda kecerdasannya. Beliau tidak suka membuang masa dengan sia-sia seperti kebiasaan tingkah laku kebanyakan kanak-kanak lain yang sebaya dengannya.
Berkat bimbingan kedua ibu-bapaknya, ditambah dengan kecerdasan otak dan kerajinannya, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab telah berhasil menghafal Al- Quran 30 Juz sebelum berusia sepuluh tahun.
Setelah beliau belajar pada orantua nya tentang beberapa bidang pengajian dasar yang meliputi bahasa dan agama, beliau diserahkan oleh ibu bapaknya kepada para ulama setempat sebelum dikirim oleh ibu bapaknya ke luar daerah.
Tentang ketajaman fikirannya, saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab bercerita:
"Bahwa ayah mereka, Syeikh Abdul Wahab merasa sangat kagum atas kecerdasan Muhammad, padahal ia masih di bawah umur. Beliau berkata: `Sungguh aku telah banyak mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan anak ku Muhammad, terutama di bidang Ilmu Fiqh."
Syeikh Muhammad mempunyai daya kecerdasan dan ingatan yang kuat, sehingga apa saja yang di pelajari nya dapat difahami nya dengan cepat sekali, kemudian apa yang telah dihafal nya tidak mudah pula hilang dalam ingatannya.



2.4 Pokok-Pokok Pikiran Kaum Wahabi
            Ajaran Wahabi terutama didasarkan atas ajaran lbnu Taimiyah dan madzhab Hambali. Prinsip-prinsip dasarnya ialah:
·         Ketuhanan Yang Esa yg mutlak .
·         Kembali pada ajaran Islam yang sejati seperti termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
·         Tidak dapat dipisahkannya kepercayaan dari tindakan seperti sembahyang dan pemberian amal.
·         Percaya bahwa Al-Qur’an itu bukan ciptaan anusia.
·         Kepercayaan yang nyata terhadap Al-Qur’an dan Hadits.
·         Percaya akan takdir.
·         Mengutuk segenap pandangan dan tindakan yang tidak benar dan.
·         Mendirikan negara Islam berdasarkan hukum Islam secara eksklusif.
Kaum Wahhabi itu menonjol di atas Muslim lain karena penekanannya pada prinsip Ketuhanan Yang Esa dan karena usaha mereka yang selalu mengingatkan Muslimin untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan amar ma’ruf nahi munkar.
Teologinya berdasarkan ajaran lbnu Taimiyah yang menyerang pemujaan orang-orang suci dan mengutuk kunjungan pada makam. Tujuan Abdu al Wahhab itu ialah untuk menyingkirkan Bid’ah.
Masyarakat mengakui kekuasaan empat ajaran “Sunni” dan “Fiqh” dan enam buah buku Hadis. Kaum Wahabi menentang pemujaan terhadap orang-orang suci. Mereka menganggap bahwa segala obyek pemujaan kecuali terhadap Allah adalah palsu. Menurut mereka mencari bantuan dari siapa saja kecuali dari Allah ialah politeisme (kepercayaan atau pemujaan kepada lebihdari satu tuhan).
Masjid-masjid Wahabi dibangun secara sangat sederhana tanpa hiasan apa pun. Mereka menghancurkan batu-batu nisan dan kuburan bahkan juga di JannatuI Baqi untuk menjaga jangan sampai menjadi benda pujaan orang-orang sesat atau orang-orang Islam yang bebal.
2.5  I’tiqat Kaum Wahabi  yang Bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jama’ah
            Ada beberapa pokok pemikiran kaum Wahabiah yang sangat bertolak belakang dengan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah yang akan di jelaskan lebih lanjut di dalam makalah ini, diantara beberapa pemikiran itu diantaranya adalah:
1. Berdoa dengan bertawassul syirik
Ulama-ulama Wahabi selalu memamfaatkan bahwa berdoa dengan tawassul adalah syirik serta haram. Hal ini tidak heran karena paham Wahabi itu adalah penerus yang fanatik dari fatwa fatwa Ibnu Taimiyah.
2. Istighatsah Syirik
Dalam sebuah karangan ulama Wahabi “At Hidayatus Saniyah Wat Tahfatul Wahabiyah”, pada Pagina 66 yaitu:
“Barang siapa menjadikan Malaikat, Nabi-Nabi, Ibnu Abbas, Ibnu Abithalib atau Mahjub perantara antara mereka dengan Allah, karena mereka dekat pada Allah, seperti yang diperbuat banyak orang di depan raja-raja, maka orang itu kafir, musrik, halal darah nya dan hartanya, walaupun ia mengucapkan Dua Kalimat Syahadat,walaupun ia sembahyang, puasa, dan mendakwahkan diri nya muslim”.[8]
Menurut buku Wahabi ini sudah jelaslah bahwa kaum Wahabi mengkafirkan sekalian orang islam yang sudah membaca syahadat bila orang Islam tersebut menjadikan Malaikat, Nabi dan sebagainya sebagai perantara mereka dengan Allah.
3. Bepergian Ziarah Kubur Haram
Suatu ciri khusus dari paham Wahabi adalah mengharamkan pergi ziarah kubur. Kalau dilakukan perjalanan ini di anggap maksiat yang wajib dilarang.
Sedangkan kaum Ahlissunnah wal Jamaah memfatwakan bahwa perjalanan ke madinah untuk menziarahi makam Nabi adalah perjalanan yang di tuntut syariat Islam, sunnat-muakkad yang baik sekali untuk di laksanakan.
Kaum Wahabi selanjutnya mengatakan bahwa tidak boleh menqasar atau menjamak sholat dalam perjalanan untuk ziarah karena perbuatan itu adalah perjalanan maksiat.
4. Qubbah diatas kubur haram
Sejalan dengan fatwa tidak boleh menziarahi kubur, kaum Wahabi berpendapat bahwa membuat qubbah di atas makam perkuburan adalah haram dan karena itu harus maka semua kubbah harus diruntuhi.
5. Merokok haram dan syirik
Bagi kaum Ahlussunnah wal Jamaah merokok itu boleh saja, hanya kalau membuat mudharat bagi tubuh barulah hukum nya haram. Akan tetapi bila itu tidak membawa mudharat maka dibolehkan.

6. Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah
Kaum Wahabi melarang orang orang mengaji sifat sifat dua puluh sedangkan hal ini dianjurkan oleh kaum Ahlussunnah wal Jamaah. Ahlussunnah wal Jamaah menciptakan suatu pengajian tauhid secara baru, yang tidak ada dari dulu, baik pada zaman Nabi Muhammad atau pada zaman sahabat-sahabat beliau.
Pengajian baru itu apa yang dinamakan oleh mereka dengan tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah. Menurut wahabiyah tauhid terbagi atas dua macam, yaitu:
·         Tauhid Rububiyah, yaitu tauhid nya orang kafir, tauhidnya orang musrik yang menyembah berhala, atau dengan kata lain “tauhidnya orang orang syirik”.
·         Tauhid Uluhiyah, yaitu tauhid orang mukmin, tauhid nya orang islam, serupa iman dan Islamnya kaum Wahabi.
Kaum wahabi berpijak pada ayat Al Quran pada surat Al Mukminun ayat 84-85 yang berbunyi:

Artinya:
“katakanlah (hai muhammad): kepunyaan siapakah langit dan bumi dan isi nya kalau kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: kepunyaan Allah. Kata kanlah lagi kepada mereka: mengapa kamu tidak mengambil pengertian”. (Al Mukminun: 84-85).
            Dengan ayat ini kaum Wahabiah mengatakan bahwa orang kafir yang menyembah berhala percaya juga akan ada nya Tuhan, tetapi iman nya tidak sah, karena mereka menyembah berhala di samping pengakuan nya atas ada nya Tuhan.
            Selain ayat tersebut juga ada ayat lain nya yaitu:


            Artinya:
                        “Dan jikalau engkau bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi dan menjadikan matahari dan bulan, mereka akan menjawab Allah. Maka bagaimana kamu berputar dari kebenaran?”. (Al Ankabut: 61)
            Kaum Wahabiah juga mengatakan bahwa orag orang kafir mengakui adanya Allah, tetapi mereka menyembah selain Allah.
            Jadi mereka menyimpulkan bahwa orang yang mengakui adanya Tuhan, tetapi menyembah selain Tuhan, ini nama nya Tauhid Rububiyah, yaitu Tauhidnya orang yang menyekutukan Allah.
            Adapun Tauhid Uluhiyah menurut mereka ialah Tauhid sebenar-benarnya Tauhid, yaitu mengesakan Allah, sehingga tiada lagi yang di sembah selain Allah. Inilah Tauhid orang mukmin sejati kata mereka. 

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung `Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab, Saudi sekarang.
Beliau meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1793 M) dalam usia 92 tahun, setelah mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam memangku jabatan sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi.
Wahabisme adalah paham Wahabi atau sering juga dilafalkan dengan Wahabi. Istilah yang terakhir ini berasal dari kata Wahabiyah atau Wahabiyun.
Asal istilah Wahabiyah atau Wahabiyun adalah kata Wahhab. Kata ini adalah salah satu bentuk perubahan kata kerja bahasa Arab, yakni wahaba-yahabu yang berarti memberikan atau menghibahkan. Bentuk perubahan kata yang menunjukkan arti subjek dari kata kerja ini adalah wahib yang berarti pemberi atau yang memberi.
Wahabiyah muncul di gurun Arab sebagai reaksi terhadap sikap pengkultusan dalam mencari keberkatan dari orang-orang tertentu  serta mendekatkan diri kepada Allah melalui ziarah ke kuburan mereka, disamping terhadap bid’ah yang telah mendominasi berbagai tempat keagamaan dan aktifitas duniawi. Wahabiah datang guna melawan semua penyimpangan ini dan menghidupkan kembali mazhab Ibnu Taimiyah, yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (w. 1787 M.).
Sebenarnya menamakan gerakan ini “Wahabiah” adalah salah, karena pembangunnya bernama Muhammad, bukan Abdul Wahab. Tersebut dalam kamus munjib pagina 568 bagian adab, yang artinya: “Wahabiah adalah suatu bahagian dari firqah islamiah, dibangun oleh Muhammad bin Abdulwahab (1702-1787 M.). lawanya menamainya wahabiah tapi pengikutnya menamakan dirinya “Al Muwah-hidun” dan thariqat mereka dinamainya Al Muhammadiyah”. Dalam firqah mereka berpegang kepada madzhab Hanbali, disesuaikan dengan tafsir Ibnu Taimiyah”.
Ada beberapa pokok pemikiran kaum Wahabiah yang sangat bertolak belakang dengan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah, diantara beberapa pemikiran itu diantaranya adalah:
Ø  Berdoa dengan bertawasul menurut wahabi syirik akan tetapi Ahlussunnah wal Jamaah membolehkan hal tersebut.
Ø  Istighatsah Syirik, menurut Wahabi sedangkan Ahlussunnah membolehkan.
Ø  Bepergian Ziarah Kubur Haram, menurut Wahabi.
Ø  Qubbah diatas kubur haram, menurut Wahabiah.
Ø  Merokok haram dan syirik, menurut Wahabiah. Akan tetapi menurut Ahlussunnah haram apabila menimbulkan mudharat dan dibolehkan apabila tidak mudharat pada diri nya.
Ø  Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah, Wahabiah hanya mengakui Tauhid Uluhiyah dan mereka beranggapan bahwa Tauhid Rubibiyah adalah Tauhid nya orang kafir. Berbeda dengan kaum Ahlussunnah wal Jamaah.


DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI (2008)  Al Q uran dan Terjemahanya penerbit diponogoro
Imam Muhammad Abu Zahrah. Aliran politik dan aqidah dalam islam. Logos publishing hous. Cet. I. Jakarta. 1996.
Sirajuddin Abbas, I’tiqat Ahlussunnah Wal Jamaah,Cet.9,Jakarta: Pustaka tarbiyah baru, 2010




[1]  http://tomygnt.wordpress.com/2010/08/14/menelusuri-kesalahan-sejarah-penamaan-wahhabisme-wahabi-wahhaby-wahhabiyah-apakah-wahabi-itu-muhammadiyyah/ Lihat Dewan Redaksi Ensiklopedi Nasional Indonesia. Ensiklopedi Nasional Indonesia: Jilid 17. Jakarta: Cipta Adi Pustaka. 1991, hal 212.
[2] Lihat Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam: Jilid 5. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. 1998, hal 156.
[3] http://www.indonesiaindonesia.com/f/5259-pengertian-wahabi/  lihat Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah, edisi Indonesia Jalan Golongan Yang Selamat, diterjemahkan oleh Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Darul Haq.
[4] imam Muhammad abu zahrah. Aliran politik dan aqidah dalam islam. Logos publishing hous. Cet. I. Jakarta. 1996. hal . 250
[5] Ibid
[6] Sirajuddin Abbas, I’tiqat Ahlussunnah Wal Jamaah,Cet.9, jakarta: pustaka tarbiyah baru, 2010, hal.352
[7] Ibid. hal 353
[8] Ibid, hal. 361.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

saya masih belajar mohon maaf bila bnyak salah dan kekurangan.

Blogger Themes

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Blogger Tricks

BTemplates.com